Lirik Lagu | Syair | Puisi | Meme

Cerpen Horror - When Your Gone - Oleh Nhoerjanah

“yess,,, horee, jadi kita berangkat hari ini ma…?” Tanya anakku.

Melihat anak-anakku terlihat senang ingin pindah rumah, tentu aku juga ikut senang. Tapi suamiku jusrtu memperlihatkan tampang yang tidak senang padahal ini adlah ide awalnya. Saat aku menanyakannya ia menjawab seolah tak ada apa-apa yah aku hanya pikir mungkin saat itu dia cape’ dari kantor. Akhirnya sorenya kami berangkat ke puncak tempat baru kami, semoga d sana kami menemukan kehidupan baruu yang lebih baik, harapku dan keluargaku.

Aku dan suamiku beserta kakak anakku manikmati malam tahun baru yang mengasyikkan aplagi tetangga-tetangga baru yang baru kami kenal tadi sore pada ramah, rasaya malam ini tak mau cepat berlalu.

Esok tiba, anak-anak tidak langsung sekolah karena mereka masih punya libur 1 minggu jadi mereka manikmati acara pindah rumah dengan liburan. Tapi aku masih membatasi gerak ank-anakku karena maklum kami baru disini belum tau jalan dan adat orang sini. Takutnya buat kekacauan .

Well, suamiku berangkat pagi untuk bekerja meskipun kantornya itu dekat tapi ia harus memulai semua dengan yang baik. Tapi aku tetap merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Sttt,,,waktu jam makan siang tiba tapi anak-anakku belum pulang. Aku pun keluar rumah mencarinya.
 “mama…” teriak Rara anak bungsuku memanggilku
“kamu dari mana saja…?” tanyaku sambil menggendongnya
Aku pun membawanya pulang ke rumah, dan tanpa aku sadari Ryan tidak ikut dengan kami itu baru aku sadari saat samapai d rumah.

“Astagfirullaha, kakakkmu mana…?” Tanya pada Rara
“waktu mama tadii menggendongku kakak udah jalan duluan.” Kata anakku
Mendengarnya mengatakan itu, aku tidak percaya yang aku lihat dari tadi hanyalah Rara tapi mungkin saja betul hanya saja mengapa dia tidak sampai di rumah. Aku benar-benar sangat panik saat itu aplagi Rangga belum pulang, setelah Rara makan aku segera mencoba mencari Ryan dan Rara aku titipkan ke tetangga sebelah. Sudah hampir maghrib aku belum juga menemukan Ryan rasanya aku kawatir sekali aku takut dia tidak tau jalan pulang karena dy masih kelas 5 SD. Aku pun pulang k rumah berharap Ryan sudah pulang. Sesampai di rumah aku dengar suara Rangga dan anak-anak, aku pun langsung membuka pintu dan mencari mereka.
“kamu kemana saja sih, hp gak di bawa..?” Tanya suamiku
“dari tadi aku mencarii Ryan….” Kataku
“dari tadi juga Ryan di rumah bersama Rara, dan Rara kamu titipkan ke tetangga sebelah kamu tidak takut.” Kata suamiku
“ aku sudah bilang aku mencari Ryan karena dia tidak bersama Rara, dan aku titipkan Rara karena aku pikir tetangga sebelah juga baik.” Kataku dengan nada tinggi
“ setidaknya kamu juga pikir, kita tidak boleh terlalu percaya sama orang ingat kita baru 3 hari d sini.” Bentaknya padaku aku pun merasa kesal di bentak di depan anak-anak. Aku pun langsung naik ke kamar.
Aku marah padanya dia pikir aku ini keluar untuk senang padahal aku panik mencari anakku sendiri, aku pun tidak meninggalkan Rara sendirian tapi bersama tetangga. Aku rasa aku tidak kelewatan tapi dia benar-benar membuat emosiku naik. Tak lama kemudian dia pun naik dan meminta maaf padaku.aku pun jelaskan semuanya.
“bukan kamu yang tadi rasakan, Rara sudah denganku tapi Ryan belum pulang yang buat aku takut, Rara bilang klo Ryan sudah pulang tapi samapi d rumah ia tidak ada, sapa yang tidak panik.” Tegasku
“iya aku tahu, aku minta maaf aku seperti ini karena aku juga kawatir denganmu sudah mau malam tapi kau belum pulang, dan Ryan itu tadi memang sudah pulang hanya saja dia singgah d toko depan rumah, dia pun melihatmu pergi tapi sudah jauh dan dia saat itu tidak tahu kalau kamu mencarinya.” Jelasnya suamiku
Mendengar itu aku pun jadi lega, aku pun menanyakan masalah sikapnya yang agk aneh. Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata tidak apa-apa. Dia hanya mencoba sadar klo kami sekarang ada d lingkungan yang berbeda jauh dari kota dan hany berharap bisa bersosialisasi dengan baik saat berada disini, tapi aku merasa bukan itu jawabanyya. Aku hanya mengiyakan saja takut cari masalah yang pasti aku sudah tenang anak-anakku baik-baik saja.

Alhamdulillah, sudah 2 minggu kami ada ditempat baru kami, rasanya lega tak ada masalah apa-apa. Tapii kami harus kesepian karena tetangga sebelah malah pindah rumah, yah gak ada teman ngobrol lagi. Saat mereka berangkat, tiba-tiba ada tetangga depan yang memanggilku masuk ke rumahnya, dengan izin suamiku aku pergi. Ternyata tetangga depan rumah baik juga hanya saja dia tidak pernah menyapaku ato ngobrol-ngobrol denganku karena tidak suka jika ada tetangga sebelah yang baru saja pindah rumah. Aku pun menanyakannya.
“ kenapa? Aku pikir bu Ana dan keluarganya baik.” Tanyaku
“iyah, baik. Saking baiknya ia pernah membunuh pembantunya sendiri hanya gara-gara  dia telat kasi makan anaknya.bagaimana anda pikir?” kata bu Silvi.
Aku pun sontak jadii kaget mendengar ap yang d katakan bu Silvi padaku.
“jadi sebenarnya dia tinggal disini untuk mengasingkan diri gitu?” tanyku
“mengasingkan?, tidak dy membunuh pembantunya yah d rumah itu trus dy hanya d penjara 3 tahun saja, entah kenapa begitu cepat.” Jawab bu Silvi
Oh my God,,, berani juga dy tinggal d rumah itu, rasanya membuat aku takut tinggal d rumah yang berseblahan dengan rumah pembunuhan itu.
“ boleh aku tau kejadiannya kapan...?” tanyaku
“kejadiannya itu sudah 5 tahun, kkm tau kenapa dy pindah rumah?” tekateki bu Silvi
“yang aku tau, klo dy baru saja bangun rumah baru d Jakarta.”jawabku
“bohonk, dy pindah karena sudah merasa ketakutan berada d rumah itu, yah wajar saja rumah itu kan t4 pembunuhan pembantu olehnya sendiri. Dan parahnya anaknya sudah gila. Anda tau lala?” Tanyanya padaku.
“ia, anknya yang keterbelakangan mental kan?” kataku
“keterbelakangan mental? Dia itu Gila karena dy menyaksikan sendiri ibu dan ayahnya membunuh pembantunya.
Wetzzz,,, aku pikir hanya bu Ani yang melakukan pembunuhan itu tapi ternyata ia bersama suaminya sendiri.

Aku segera pamit pulang dan menceritakan semuanya ke suamiku saat anak-anakku terlelap tidur. Mendengar ceritakku, dia sama sekali tidak percaya dia berpikir klo tetangga depan rumah yang bohong. Aku pun berdebat dengan suamiku dan tiba-tiba di dapur terdengar sesuatu yang pecah.
“ap itu?” tanyaku dengan rasa takut
Saat aku dan Rangga mencoba masuk ke dapur rupanya hanya gelas yang di jatuhkan kucing. Saat kmi membalikkan badan untuk kembali ke ruang tamu tiba-tiba lampu mati, anak-anak di atas sontak langsung teriak. Aku dan Rangga secepatnya naik melihat ank-anak, saat di tangga lampu nyala hmmm syukurlah saat kami mencek ank-anak, mereka tertidur pulas. Aneh …tapi Rangga tetap menenangkanku.

Keesokan harinya, saat sarapan aku tanyakn ke anak-anak klo tadi malam mereka teriak saat mati lampu.
“mati lampu? Aku tidak tau klo tadi malam mati lampu.” Jawab Ryan
Hal yang sama d katakan juga oleh Rara, saat mereka berangkt k sekolah Rangga memarahiku lagi.
“untuk apa sih kamu tanyakan itu ke anak-anak, kamu jangan mengganggu pikiran mereka aku sudah bilang itu memanng teriakn mereka dan mungkin saja mereka lupa kerena langsung terlelap tidur.” Katanya
“iya, tapi kompak banget mereka punya jawaban yang sama. Kamu kenapa sih aku tau kamu juga sudah merasakan hal yang aneh kan, tapi kamu menyembunyikannya.” Ucapku menatap matanya
“tidak, aku tidak sepertimu, sayang tenanglah semua akan baik-baik saja. Ok..” katanya
Hmm aku juga tidak tau, mungkin ini kepikiran karena cerita bu Silvi. Hehhh, tapi aku ingin tau apa cerita bu Silvi itu benar ato tidak. Semenjak kepergian bu Ani sering terjadi hal-hal yang aneh seperti sering terdengar orang ribut saat malam hari tapi saat aku membuka pintu dan menoleh ke sebelah dan di mana-mana tak ada siapa-siapa,aku tambah takut tapi aku sudah tidak pernah lagi memberitahukan ke suamiku karena dia pasti hanya mengira aku mengada-ada aku capek mendengarnya.
“mama…” panggilnya Rara saat pulang bermain bersama kakaknya. Tapi dia membawa sesuatu
“boneka apa itu sayang?” tanyaku k Rara
“ aku dapatkan ini di depan rumah ma’” jawabnya
“ kembalikan itu k tempat semula nak, jangan mengambil sesuatu sembarangan” perintahku
“aku sudah bilang ma untuk tidak mengambilnya tapi dia merengek terus.:”kata Ryan
Aku sudah membujuknya untuk mengembalikannya tapi Rara tidak mau bahkan aku menjanjikannya boneka yang lebih bagus dan besar tapi ia tidak mau, terpaksa aku mengijinkannya semoga tak ad yang mencari boneka itu.

Malam hari bersama Rara di kamarnya menemaninya dan berusaha buat dia tidur karena sudah jam 10 malam ia belum tidur padahal biasanya jam 8 ia sudah tidur, hmm dengan menceritakannya dongeng akhirnya tidur juga, gara-gara main-main untuk buat dia cape, kamarnya berantakan sekali aku pun merapikannya. Terakhir aku rapikan boneka yang baru saja ia dapat di depan rumah. Kaget dan membuat aku ketakutan terdapat sebercik darah di bagian belakang boneka itu dan jika di perhatikan bentuknya mirip genggaman tangan, saat aku cium itu adalah darah segar. Aku segera k bawah memperlihatkannnya ke suamiku.
 “Kamu kenapa?” Tanya suamiku yang keget melihatku terbirit-birit turun ke tangga.
“ Rangga coba kamu lihat ini..” kataku menunjuk di bagian darah itu
Yang membuat jengkel suamiku malah mengatakan klo itu bekas es crem yang tadi siang makan, kebetulan ia milih es cream buah naga yang merahnya cerah. Aku sih tidak percaya tapi aku percaya saja karena gak mungkin juga darah.
“ sini, boneka aku buang. Takut nanti punyanya liat terus Rara tidak mau mengembalikannya.” Kata Rangga dengan bijak
Dia pun meletakkan boneka itu di mana posisi awalnya.
Well, pagii pun tiba.
“Saatnya makan, ayo turun semuanya…” seruku memanggil suami dan ank-anakku
Saat kami semua makan, tiba-tiba suamiku lari keluar, aku pun kaget melihatnya tapi aku baru ingat masalah boneka itu, suamiku pasti memindahaknnya dulu sebelum di lihat oleh Rara.
Saatnya tiba anak-anankku berangkat k sekolah.
“Bagaimana denagn bonekanya.?” Tanyaku pada Rangga
“Bonekanya sudah aku pindahkan.” Jawabnya
Ternyata suamiku membohongiku, dia tidak tau saat ia tadi keluar aku juga keluar tapi yang ada boneka itu tidak ia pindahkan karena bonekanya sudah tidak ada. Tapi apa maksudnya membohongiku apa susah bilang klo boneka itu sudah di ambil orang, aku semakin curiga dengan Rangga aku tau dia tau sesuatu tapi tak mau jujur denganku.
“aku berangkat...” katanya sambil mencium keningku.
“iyah hati-hati.” Katakku mencium tangannya.
Hmmm aku rasa ada yang tidak beres dengan keadaaan akhir-akhir ini. yah ini semenjak tetangga sebelah pindah, rasanya ia meninggalkan teka-teki yang tak berujung. Oh ya masalah omongan bu Silvi aku harus tau apa itu benar ato hanya bu Silvi saja yang bohong tapi rasanya tidak mungkn dia bohong dengan masalah besar seperti itu. Aku mencoba keluar rumah pergi ke toko dekat rumah.
“Ehh ini ibu yang baru-baru ini pindah ke sini kan? Baru keliatan” Tanya ibu-ibu pemilik toko
“iya bu, kebetulan bahan-bahan makanan di rumah selalu suamiku yang beli dekat kantornya, aku juga banyak kesibukan di rumah jadi jarang keluar rumah. Tapi sekarng kebetulan makanan di rumah habis” kataku dengan cerita karangan
“ohh,,, hmm tapi untung saja loh tetangga ibu tuh pindah” katanya dengan cetus
“maksudnya ibu Ani dan keuarga.?” Tanyaku
“(mengangguk)” pemilik took
“loh, memang kenapa.? bu Ani setauku baik” kataku yang meyakinkan
“kita tuh semua benci sama dia lagaknya saja baik tapi gitu-gitu dia pernah membunuh” kata pemilik took
“membunuh? Maksud ibu?” tanyaku
“iya bu, sekitar 5 tahun mungkin dia bersama suaminya pernah di penjara gara-gara membunuh pembantunya hanya karena masalah sepele. Rumah itu sebenarnya angker tapi mereka tetap tinggal di situ” katanya dengan jelas
“angker? Lantas kenapa ibu dan tetangga sini tetap mau tinggal ?” tanyaku lagi
“yah itu karena sewaktu mereka mau keluar dari penjara dan mau menemapti rumah itu lagi sudah ada ustasd yang mengusir roh-roh di rumah itu, makanya kami juga tidak takut lagi, nah kebetulan ustasdnya itu yang ada di rumah anda.” Katanya
“suami bu Silvi?” tanyaku
“iya, suami bu Silvi maka dari itu bu Silvi betah tinggal di situ yang paling jago yah anda.” Katanya
“saya?” tanyaku
“iyah, biasanya tuh orang yang pindah di rumah yang anda tinggali sekarang paling lama hanya satu 3 ato 4 hari, tapi seatauku anda agak lama, eh tapi maaf saya tidak bermaksud menakut-nakuti anda sekarang sudah gak angker kok.” Kata pemilik took itu dan langsung masuk sesaat setelah barang yang aku beli di beriaknnya.
Hehh, ternyata bu Silvi tidak bohong jadi yang selama ini terjadi di rumah itu bukan hanya kejadian yang biasa tapi pasti ada hubungannya dengan peristiwa pembunuhan beberapa tahun silam, termasuk bekas darah yang aku lihat di boneka itu, aku yakin suamiku bohong lagi kalu itu bekas es cream yang habis di makan Rara. Tapi aku tidak langsung memberitaukan ini ke Rangga takutnya ia tidak percaya lagi, yang hanya akan aku beritaukan masalah perkataan bu Silvi itu benar. Eh tapi di fikir-fikir tidak usahlah dia pasti hany akn bilang, masalahnya sudah clear tak usah di bahas lagi dan aku sudah tetapkan saat aku dapat bukti keangkeran rumah itu saat itu juga aku akan kemasi barang-barangku pulang ke rumah semula, aku tidak mau keluargaku jadi korban. Meskipun cukup parno tapi aku sungguh takut, harus menjalani hidup dengan penuh ketakutan.

Well, dua hari berlalu syukurlah tak ada kejadian apa-apa, aku lega.
Waktu kumpul dan bercanda pun dapat aku rasakan dengan nyaman bersama kedua anakku dan suamiku.
“mama, aku mo keluar main ya” kata Ryan
“ok, tapi dengan syarat jangan jauh dari kompleks sini dan pulang sebelum jam 4 sore (saat itu jam menunjukkan pukul 14.00 wib)
Well tidak lama kemudian, ada anak bu Silvi yang memnggil Rara main, yah karena aman aku ijinkan Rara main.
“hmm,,,” suamiku
“ada apa?” tanyaku
“bagaimana perasaan kamu, sudah baikan? Aku sudah bilang jangan berpikir yang lain-lain fokus sama kehidupan kita saja.”kata suamiku
Aku hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitas, entah dia sudah tau atau tidak kejadian sebenarnya aku tidak peduli, benar kata suamiku aku harus focus denagn kehidupan diri sendiri saja.

Well, jam sudah berdenting dan menunjukkan jam 4 sore tidak lama kemudia Ryan pulang tapi tidak dengan Rara. Aku tidak terlalu cemas Karena dia itu ada d rumah bu Siilvi,aman lah, dan tidak lama juga jam 4.30 (sore) Rara sudah keluar dari rumah bu Silvi, saat akan masuk ke rumah tiba-tiba ia melihat gadis kecil masuk ke rumah bu Ani dia mengikuti gadis itu karena gadis kecil itu memegang boneka yang ia dapat kemarin di depan rumah.
“bonekaku.” Kata Rara berlari mengikuti gadis kecil itu
Rara pun tanpa aku tau masuk ke rumah bu Ani padahal yang aku tau rumah bu Ani di gembok.
“hei, itu bonekaku. Kembalikan bonekaku” panggilnya Tiara mengikuti gadis itu menyusuri rumah itu.
Adzan magrib d mesjid telah terdengar tapi Rara tidak pulang aku pun ke rumah bu Silvi membawanya pulang.
“ad apa bu?” Tanya bu Silvi padaku
“aku datang mau mengambil Rara, hehehe dia pasti sudah mengganngu sekalii.” Kataku yang tidak tau bahwa Rara sudah keluar dari tadi.
“Rara? Dari tadi Rara sudah pulang bu saya yang melihatnya.” Kata Bu Silvi, ya bu Silvi memang melihat Rara membuka gerbang rumahnya tapi tidak sempat melihatnya masuk rumah.
Aku pun langsung panik dan kembali k rumah mencari Rara.
“Rangga, Rara memangnya dari sudah ada di rumah?” tanyaku
“ya tidaklah, bukannya dia ada d rumah bu Silvi aku pikir kau k sana,” kata suamiku
“iya aku baru saja dari situ tapi kata bu Silvi dari tadi Rara sudah pulang.” Kataku
Mendengar ceritaku suamiku juga langsung panik, dan saat itu juga aku,Ryan dan suamiku keluar mencari Rara, tetanggaku pun membantu mencarinya sampai jam 8 malam Rara tidak di temukan.

Well, di rumah bu Ani. Rara kehilangan jejak gadis itu. Cukup memberanikan juga, cahaya di rumah bu Ani hanya di terangi oleh sinar rembulan yang masuk di sela-sela jendela kacanya tapi Rara sangat semangat mencari gadis itu untuk mengambil bonekanya. Aku sempat melihat bayangan Rara berlari di rumah bu Ani.
“itu Rara” kataku menunjuk ke rumah bu Ani
Tapi suamiku hanya bilang aku hanya melihat bayangan semu karena saat suamiku balik ia tak melihat siapa-siapa, tapi aku yakin itu pasti Rara. Namun tak ada yang memperdulikanku.

Kembali ke Rara.

Rara tiba-tiba mendengar suara denting kotak musik, dia pun mencari arah di mana musik itu terdengar, sampai akhirnya ia dapatkan sumber denting kotak musik itu. Tepatnya di bagian belakang rumah bu Ani dekat kolam. Rara pun mendekat dan ia langsung teriak histeris saat melihat gadis kecil tadi terapung d kolam renang tetap memegang boneka itu.
“ahhhhh,,, mama……” teriaknya Rara yang sangat ketakutan
Aku pun bersama yang lainya di luar mendengar teriakan Rara.
“itu suara Rara.” Kataku
“iya aku dengar, dia ada di dalam (menunjuk ke rumah bu Ani)” kata suamiku
Aku pun bersama Ryan, yang gendong suamikku, dan juga tetangga yang lain masuk ke rumah itu dan mencari Rara.
“Rara sayang kamu di mana.” Teriakku bersama yang lainnya
Aku mendengar suara tangisan aku pun mencari sumber suara itu. Dan ternyata itu adalah suara anakku Rara yang menunduk nangis ketakutan.
“Rara sayanga.” Kataku mencoba mendekat.
“mama…” teriak Rara yang memelukku erat, aku pun menggendongnya.
Rara menujuk ke arah kolam dan pemandangan yang sungguh menyeramkan,  tak mampu ku berkata aku hanya langsung memanggil suamiku.
“Rangga, kesinilah aku sudah dapatkan Rara aku ada da belakang” aku teriak memanggil suamiku.
Suamiku beserta yang lainyya menuju ke bagian belakang rumah bu Ani. Aku langsung membisikkan ke suamiku untuk menutup mata Ryan, cukup Rara saja yang yang melihatnya. Semua tercengang melihat gadis itu terapung tak bernyawa di kolam renang air kolam itu bukan berwarana biru laut tapi berwarna merah cerah. Yang lebih mengejutkan lagi rupanya gadis kecil itu adalah anak bu Ani yang Gila. Astagfirullah.

Aku segera membawa ankku ke Rumah Sakit karena badannya panas sekali, aku dan suamiku selalu berada di kekatnya tanpa pergi-pergi, aku sangat takut ini akn mengganggu kejiwaan Rara aku sungguh takut.

Keesokan harinya masalah itu menjadi tanggungan polisi, polisi pun mencari Bu Ani dan keluarga sampai akhirnya di temukan di rumah orang tuanya. Semuanya pun terungkap ternyata alasan Bu Ani minggat dari rumahnya karena telah membunuh anak kandungnya sendiri, pembunuhan itu ia lakukan bersama suaminya lagi, katanya ia capek mendengar gurauan anknya yang selalu berhalusinasi melihat pembantu yang di bunuhnya. Wow,, sungguh teganya jadi orang tua. Aku menyarankan ke polisi untuk memenjarakannya seumur hidup mereka bukanlah manusia lagi tapii iblis.

Syukurlah Rara tidak kenapa-kenapa, dia baik-baik saja bahkan dia sudah lupa kejadian itu aku sangat bersyukur tapi aku sangat marah ke suamiku rupanya masalah bu Ani ia sudah tau jauh-jauh hari sebelum kita pindah, tapi karena terlanjur terima kontrak, ia tidak bisa membatalkannya dan berharap semua baik-baik saja, tapi setelah melihat kejadian itu, aku menanyakan padanya apakah semua baik-baik saja ia hanya diam menangis dan memelukku.
“aku tau aku pasti merasa bersalah, tapi aku mohon jangan membohongiku lagi kamu tau anak kita hampir jadi korban .” Kataku mengelus sumiku yang menangis.
Dan akhirnya suamiku berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi karena ia sangat menyayangiku dan anak-anak. yah itu memang sudah sepatutnya. Setelah masalah selesai kami pun mengemasi barang-barang untuk kembali ke ruamh semula, kami dan Rangga meminta pemindahan kerja ke Makassar tempat tinggal kami sebelum pindah ke sini.

Aku rasa ini adalah sebuah pelajaran untuk tidak menyembunyikan sesuatu karena akibatnya bisa merugikan, dan untuk bu Ani dan suaminya, siapkan dirimu merasakan api neraka yang lebih kejam dari perbuatanmu. Dan untuk suami dan anak-anakku, aku sangat menyayangi kalian semoga ini kejadian terburuk teakhir yang pernah aku alami.

GOOD BYE
… And Nothing in the house that make you afraid again…
Created by :

NR_Princess
Copyright © Kata Talita. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design